OPTIMALKAN PERAN PERAWAT, IPANI (IKATAN PERAWAT ANAK INDONESIA) SULSEL GELAR SEMINAR DAN WORKSHOP NASIONAL

Stikestanawali.ac.id Takalar – Untuk memperkenalkan teknik perawatan metode kanguru pada bayi yang lahir prematur yang sering disebut Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), Ikatan Perawat Anak Indonesia mengadakan seminar dan workshop dengan tema Optimalisasi Peran Perawat dalam Penanganan BBLR melalui Kangaroo Mother Care (KMC), di Four Points by Sheraton jl. Landak Baru Makassar Jumat (15/4).

Perawatan Metode Kanguru (PMK) merupakan perawatan untuk bayi berat lahir rendah atau lahiran prematur atau lahiran prematur dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu atau skin to skin contact, dimana ibu menggunakan suhu tubuhnya untuk menghangatkan bayi.

Ketua Stikes Tanawali Persada Takalar dalam kegiatan ini sebagai ketua panitia ibu Dr. Hj. Patmawati S.Kp., M.Kes dalam laporannya menyampaikan Visi dan Misi IPANI (Ikatan Perawat Anak Indonesia) selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa jumlah peserta yang ikut dalam kegiatan ini berjumlah kurang lebih 500 peserta dan dari Stikes Tanawali sendiri berjumlah 150 mahasiswa. Beliau juga menyampaikan besar harapannya dengan hadirnya IPANI (Ikatan Perawat Anak Indonesia) semua program untuk anak dapat terealisasi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar A. Naisyah Tun Nurainah Azikin turut hadir dan sekaligus membuka acara. Andi Naisyah sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh IPANI (Ikatan Perawat Anak Indonesia) mengingat program-program IPANI (Ikatan Perawat Anak Indonesia) sangat membantu kerja pemerintah dalam memelihara kesehatan masyarakat terutama mengurangi jumlah kematian anak.

”Pemerintah tentunya memberi penghargaan dan apresiasi terhadap IPANI (Ikatan Perawat Anak Indonesia) yang telah membantu pemerintah dalam memelihara kesehatan masyarakat dan terpenting mengurangi jumlah kematian anak”, kata Naisyah.

Perawatan metode kanguru ini pertama kali diperkenalkan di Bogota, columbia pada tahun 1979 oleh Ray dan Martinez sebagai cara perawatan BBLR ditengah tingginya angka BBLR dan terbatasnya fasilitas kesehatan yang ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *